Bengkulu - Meeja Metro Update | Aktivitas "BACA" merupakan aktivitas fundamental yang, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, mampu memaksimalkan fungsi otak manusia. Proses ini mengaktifkan sel-sel saraf secara optimal, sehingga mempermudah manusia dalam menjalani berbagai aktivitas kehidupan. Perintah “Baca” dalam konteks ini tidak terbatas pada teks tertulis semata, melainkan mencakup pula segala hal yang “tidak tertulis”—yakni realitas sosial, budaya, sejarah, dan dinamika kehidupan yang tersirat di balik fenomena sehari-hari.
Membaca secara mendalam dan luas menjadi benteng utama untuk menghindari sikap literal-skripturalis yang kaku, penghakiman hitam-putih yang sempit, kemiskinan perspektif, serta kegagapan dalam menyikapi progresivitas peradaban kemanusiaan. Lebih dari itu, membaca menuntut kehalusan budi dan kejujuran intelektual agar terhindar dari jebakan “halo effect”—kecenderungan menilai sesuatu secara keseluruhan berdasarkan kesan awal yang dangkal.
Bacalah dengan nama Tuhanmu…
Ungkapan ini mengingatkan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas intelektual biasa, melainkan ibadah yang mendalam dan transformatif. Membaca menjadi fondasi utama dalam mengembangkan serta merevitalisasi tradisi intelektual.
Sepanjang sejarah peradaban, tradisi intelektual inilah yang berperan sebagai penggerak utama perubahan sosial. Tradisi ini pula yang membentuk pola gerak kehidupan beradab, menentukan arah nilai, etika, dan visi kolektif suatu masyarakat.
Namun, di era kontemporer, tradisi intelektual mulai melemah dan “melumer” akibat terjebak dalam banjir “wacana pendek” yang dibawa oleh tsunami media sosial. Fenomena ini sungguh merupakan kerugian besar bagi peradaban manusia. Bahkan lebih berbahaya lagi jika “wacana pendek” tersebut akhirnya bertransformasi menjadi tradisi baru yang menggantikan kedudukan tradisi intelektual secara permanen—menghasilkan budaya instan, dangkal, dan anti-refleksi.
Memang benar bahwa zaman terus berubah, dan kini millenialisme (atau millennialisme dalam konteks generasi dan budaya digital) telah menjadi arus utama perubahan teranyar.
Namun, justru di sinilah letak tantangan sekaligus peluang: tradisi intelektuallah yang seharusnya menjadi pewarna dominan dalam arus millenialisme ini. Bukan menyerah pada dangkalnya wacana pendek, melainkan mewarnai, membentuk, dan mengarahkan millenialisme menuju bentuk yang lebih bermartabat.
Dengan semangat tersebut, Azam mengusulkan konsep baru: Tradisi Intelektual Millenialistik.
Ini bukan sekadar kompromi antara tradisi lama dan zaman baru, melainkan sintesis yang sadar—di mana kedalaman intelektual, kejujuran berpikir, dan keluasan perspektif tetap menjadi inti, sementara medium dan kecepatan zaman millenial (digital, cepat, visual, interaktif) dijadikan alat, bukan tujuan.
Tradisi ini diharapkan melahirkan pola baru peradaban: intelektual yang relevan dengan zaman, kritis namun inklusif, mendalam namun dapat diakses, reflektif namun responsif terhadap perubahan.
Dengan demikian, millenialisme Azam bukanlah penolakan terhadap zaman, melainkan penegasan bahwa tradisi intelektual harus tetap hidup dan berkuasa di tengah arus perubahan. Ia adalah panggilan untuk membaca dunia—yang tertulis maupun yang tidak tertulis—dengan nama Tuhan, demi melahirkan peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga beradab secara intelektual dan spiritual.
Semoga Tradisi Intelektual Millenialistik ini menjadi warisan yang terus direvitalisasi, bukan hanya oleh generasi millenial, tetapi oleh setiap insan yang masih percaya bahwa membaca adalah kunci kemuliaan umat manusia. Penulis (Muhammad Prihatno)
#Azamik
#Latihan_berpikir