JAKARTA — Meeja Metro Update | Pemikiran tokoh pergerakan nasional Tan Malaka kembali relevan di tengah dinamika sosial dan tantangan kepemimpinan bangsa saat ini. Ia menegaskan bahwa pendidikan memang mampu melahirkan orang-orang pandai, namun tidak otomatis mencetak pemimpin sejati yang mampu berdiri bersama rakyat.
Dalam berbagai tulisannya, Tan Malaka menekankan bahwa pendidikan tanpa keberpihakan sosial hanya akan melahirkan elite intelektual yang terpisah dari realitas kehidupan masyarakat. Orang-orang terdidik bisa fasih berbicara tentang teori negara, hukum, dan pembangunan, tetapi jika mereka tidak menyentuh kehidupan petani, buruh, dan masyarakat miskin, maka ilmu itu menjadi kosong dari makna.
Menurut pandangan tersebut, kepemimpinan sejati lahir dari keberanian untuk memihak kepada mereka yang tertindas. Pengetahuan harus berpadu dengan perjuangan konkret, di mana gagasan yang lahir dari buku diuji dan disempurnakan di tengah kenyataan sosial. Di titik inilah pendidikan menemukan fungsinya sebagai alat pembebasan, bukan sekadar simbol status.
Tan Malaka juga mengingatkan bahwa ketika pendidikan hanya digunakan untuk menaikkan posisi pribadi, maka ia akan berubah menjadi “menara gading” yang rapuh. Para lulusan terbaik bisa kehilangan arah sejarah jika tidak memahami penderitaan rakyat yang seharusnya mereka bela.
Di tengah kondisi bangsa yang masih menghadapi kesenjangan sosial, pesan ini menjadi refleksi penting bagi generasi muda dan kalangan terdidik. Indonesia tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas secara akademik, tetapi juga yang memiliki keberanian moral dan keberpihakan sosial.
Dengan demikian, semangat Tan Malaka mengajak dunia pendidikan untuk kembali pada tujuan utamanya: mencetak manusia yang bukan hanya pintar, tetapi juga berani berjuang demi keadilan dan kesejahteraan rakyat. Rilis (Literasi Kata)